Idul Fitri dan Sunnahnya

Idul Fitri merupakan hari raya umat muslim setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Hari diturunkannya keberkahan dan Rahmat Allah kepada hamba hambanya yang beriman. Hari suka cita dan hari kembali Fitri. Hari untuk mengagungkan dan memuliakan Allah SWT dengan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih. 

Ada beberapa amalan amalan idul Fitri, diantaranya:
Pertama, Sholat Idul Fitri dengan berjamaah. hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dikukuhkan).

Kedua, mandi. Sunnah bagi siapapun, laki-laki, perempuan bahkan wanita yang tengah haid atau nifas melakukan mandi Idul Fitri. Kesunnahan ini juga berlaku bagi yang tidak menghadiri sholat Idul Fitri, seperti orang sakit. Waktu mandi ini dimulai sejak tengah malam Idul Fitri sampai tenggelamnya matahari di keesokan harinya. Lebih utama dilakukan dilakukan setelah terbit fajar 

Ketiga, menghidupkan malam Idul Fitri dengan ibadah. Dianjurkan menghidupi malam hari raya dengan sholat, membaca shalawat, takbir, tahmid, tahlil, tasbih membaca Alquran, membaca kitab, sedekah, zakat, dan bentuk ibadah lainnya. Anjuran ini berdasarkan hadits Nabi:

“Barangsiapa menghidupi dua malam hari raya, hatinya tidak mati di hari matinya beberapa hati”. (HR. al-Daruquthni).

Keempat, memperbanyak bacaan takbir. Salah satu syi’ar yang identik dengan Idul Fitri adalah kumandang takbirnya. Anjuran memperbanyak takbir ini berdasarkan firman Allah:

“Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 185).

Ada dua jenis takbir Idul Fitri. Pertama, muqayyad (dibatasi), yaitu takbir yang dilakukan setelah sholat, baik fardhu atau sunnah. Setiap selesai sholat, dianjurkan untuk membaca takbir. Kedua, mursal (dibebaskan), yaitu takbir yang tidak terbatas setelah sholat, bisa dilakukan di setiap kondisi. Takbir Idul Fitri bisa dikumandangkan di mana saja, di rumah, jalan, masjid, pasar atau tempat lainnya.

Kelima, makan sebelum berangkat sholat Idul Fitri. Anjuran ini berbeda dengan sholat Idul Adha yang disunnahkan makan setelahnya. Hal tersebut karena mengikuti sunnah Nabi. Lebih utama yang dimakan adalah kurma dalam hitungan ganjil, bisa satu butir, tiga butir dan seterusnya. 

Keenam, berjalan kaki menuju tempat shalat. Hal ini hukumnya sunnah, berdasarkan ucapan Sayyidina Ali:

“Termasuk sunnah Nabi adalah keluar menuju tempat shalat Id dengan berjalan”. (HR. al-Tirmidzi )

Ketujuh, membedakan rute jalan pergi dan pulang tempat sholat Id. Di antara hikmahnya adalah agar memperbanyak pahala menuju tempat ibadah dan banyak berjumpa dengan sesama muslim untuk saling tahniah 

Kedelapan, berhias. Idul fitri adalah waktunya berhias dan berpenampilan sebaik mungkin untuk menampakan kebahagiaan di hari yang berkah itu. Berhias bisa dilakukan dengan membersihkan badan, memotong kuku, memakai wewangian terbaik dan pakaian terbaik. Kesunnahan berhias ini berlaku bagi siapapun, meski bagi orang yang tidak turut hadir di pelaksnaan sholat Idul Fitri. Khusus bagi perempuan, anjuran berhias tetap harus memperhatikan batas-batas syariat, seperti tidak membuka aurat, tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya dan lain sebagainya. 

Kesembilan, tahniah  atau memberi ucapan selamat. Hari raya adalah hari yang penuh dengan kegembiraan. Karena itu, dianjurkan untuk saling memberikan selamat atas kebahagiaan yang diraih saat hari raya.
Tidak ada aturan baku mengenai redaksi ucapan selamat Idul Fitri. Salah satu contohnya “taqabbala allâhu minnâ wa minkum”, “kullu ‘âmin wa antum bi khair”, “selamat hari raya Idul Fitri”, “minal aidin wa al-faizin”, “mohon maaf lahir batin”, dan lain sebagainya.

Informasi Lainnya: